RSS
Facebook
Twitter

Selasa, 18 April 2017

Michael Essien, Fenomena Besar Bagi Sepak Bola Indonesia




Bagi para penggemar sepak bola, Nama Michael Essien tentu bukan sebuah nama asing asing lagi. Pemain yang pernah berkarir di beberapa klub besar eropa seperti Real Madrid, Chealsea, AC Milan dan beberapa klub lainnya ini membuat keputusan yang sangat berani dengan memilih Persib Bandung sebagai klub untuk melanjutkan karirnya.

Pilihan yang sangat berani karena seperti yang kita ketahui olahraga paling populer di Indonesia belakangan ini sedang gempar masalah internal salah satunya karena dualisme kepemimpinannya. Bukan malah berbuat sesuatu untuk mencari solusi malah saling jual mahal dan menyalahkan pihak lain.

Menyimak wawancara yang ditayangkan di TV One Pada Hari Minggu 16 April 2017 kurang lebih pukul 17.35 WIB itu saya dapat menyimpulkan pemain ini adalah salah satu pemain top yang tetap ramah dalam bersikap. Sikap seperti ini tentu sangat baik bagi 'orang besar' yang biasanya sikapnya 'berubah' ketika sedang berada di puncak karir. Sepertinya pelatih dan pemain persib juga sependapat dengan argumen ini.

Salah satu yang cukup menarik dalam wawancara tersebut yaitu ketika ditanya mengenai pendapatnya dalam hal cuaca dan fasilitas sepak bola yang ada di Indonesia dia mengatakan semua hal itu bukan suatu masalah karena kondisi seperti ini hampir sama ketika dia mulai berkarir di Afrika dan pada akhirnya dia mampu beradaptasi dengan semua itu. Dengan awal karir yang seperti itu, seperti yang kita ketahui dia berhasil menjadi pemain besar yang malang melintang ke klub-klub besar eropa. Jadi, bukan alasan bagi kita untuk tidak bisa. Sudah seharusnya Essien ini dijadikan role model sebagai pemain yang berusaha melatih kemampuannya dari nol hingga kita ketahui sempat berada di puncak karir ketika berhasil malang melintang di klub-klub besar eropa.

Michael Essien datang ke Indonesia bukan hanya membawa antusias tersendiri bagi para pecinta sepak bola di Indonesia. Namun juga membawa sorotan dunia ke Persib khususnya atau secara umum ke persepakbolaan Indonesia. Namun tampaknya dengan bahasa santai dia bilang tak menganggap dirinya besar, dia hanya pemain Persib dan dia hanya mencoba mempromosikan sepak bola Indonesia ke mata dunia dan bisa berprestasi di kancah internasional.

Hebatnya, nama besar yang dibawanya ke Indonesia tak membuat dirinya merasa lebih super dari pemain lainnya. Dia menyebutkan kalau dia hanya menikmati sepak bola dan menikmati tantangan. Tak menjanjikan banyak hal namun akan berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik sebagai salah satu anggota tim Persib Bandung.

Awalnya kedatangan Mantan Pemain Tim Nasional Ghana ini cukup membuat heran bahkan untuk para pemain persib sendiri. Alasannya, sejauh ini persib lebih membutuhkan striker baru dibanding mendatangkan seorang gelandang baru yang tentunya didatangkan dengan banderolselangit ini.

Namun demikian, kedatangan Essien tetap satu hal yang patut dibanggakan karena seorang pemain kelas dunia mampu dibawa untuk berkiprah di liga tertinggi di Indonesia. Harapannya tentu bisa membawa pengaruh positif, transfer ilmu, perbaikan dan semangat baru bagi seluruh pecinta sepak bola di Indonesia.

Tetaplah menjadi pemain yang hanya “menikmati sepak bola dan menyukai tantangan” karena nama besarmu telah menjadi sorotan khususnya bagi seluruh pecinta sepak bola di Indonesia dan tentunya kami harapkan bisa menjadi contoh dan pengaruh positif bagi perkembangan sepak bola di Indonesia.


Welcome to Persib Bandung
Welcome to Indonesia

Jumat, 17 Maret 2017

LKTI Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan 2017



Latar Belakang
Awalnya tulisan untuk lomba ini sebenernya mau dikirim untuk LKTI Kemenhub yang pernah ku rasakan tahun 2014 lalu. Waktu itu berhasil menjadi finalis 15 besar dan menerima berbagai fasilitas luar biasa yang bikin ketagihan untuk ikut lagi. Namun ketika lomba itu dibuka lagi pada sekitar oktober 2016, ternyata deadline tak sanggup terkejar hingga akhirnya karya ini sempat menganggur di laptop selama beberapa bulan.

Foto-foto Kontingen Unnes selepas Malam Keakraban

Kamis, 05 Januari 2017

KRITIK TERHADAP SISTEM KKM




Menembus Batas
Dulu pertama kali dikenalkan dengan sistem KKM adalah ketika pertama kali masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama) yaitu kira-kira pertengahan tahun 2006. Waktu itu, dijelaskan bahwa KKM untuk mata pelajaran TIK yaitu 65 dengan kata lain jika tidak bisa mencapai nilai tersebut maka harus mengulang. Ada perasaan takut ketika mendengarnya dan menjadi sedikit pemicu untuk tidak bermain-main dalam kegiatan pembelajaran.

Minggu, 27 November 2016

Kritik Terhadap 6 SKS Mata Kuliah Skripsi

Skripsi adalah salah satu tujuan akhir mahasiswa yang kebanyakan darinya ingin diselesaikan secepat mungkin. Namun dalam prosesnya, pengerjaan skripsi selalu tak semudah yang dibayangkan. Selalu banyak rintangan yang menghalangi untuk sesegera mungkin menyelesaikan salah satu momok bagi mahasiswa tingkat akhir. Beberapa rintangan diantaranya ada yang terhalang karena sudah bekerja terlebih dahulu, ada yang masih berorganisasi, ada yang sekedar malas mengerjakan, atau bahkan ada yang terhalang dosen pembimbing dengan segala kesulitannya. Hanya mahasiswa yang lurus dan penuh keberuntungan dengan tidak mengalami beberapa hal tadi lah yang bisa lulus tepat waktu.

Di kampus kami sendiri, skripsi memiliki bobot sebanyak 6 SKS (Kurang tau untuk SKS di kampus lain). Berikut adalah screenshotnya.


Menurut sepaham saya, sejak dari mahasiswa baru 1 SKS berarti 1 jam pelajaran perkuliahan.

Sedangkan menurut Wikipedia.org, SKS adalah adalah singkatan dari satuan kredit semester. Sistem SKS ini digunakan umumnya di perguruan tinggi. Dengan sistem ini, mahasiswa dimungkinkan untuk memilih sendiri mata kuliah yang akan ia ambil dalam satu semester. SKS digunakan sebagai ukuran:
  • Besarnya beban studi mahasiswa.
  • Besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha belajar mahasiswa.
  • Besarnya usaha belajar yang diperlukan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, baik program semesteran maupun program lengkap.
  • Besarnya usaha penyelenggaraan pendidikan bagi tenaga pengajar.
Ya itulah, rumit.

Kembali fokus ke topik ‘Kritik Terhadap 6 SKS’, bisa disimpulkan bahwa jika skripsi mempunyai 6 SKS berarti setidaknya kita mempunyai waktu setidaknya 6 jam dalam seminggu untuk bimbingan skripsi bukan? Misalkan dalam seminggu dosen sibuk dan tidak ada waktu untuk menemui mahasiswanya maka harus diganti di minggu berikutnya kan? Seperti layaknya jam perkuliahan yang presensinya harus selalu terisi penuh hingga 16 kali pertemuan.

Namun beberapa mahasiswa masih mengeluhkan sulitnya menemui dosen pembimbing. Ada yang bimbingan 2 minggu sekali, ada yang menunggu dari pagi hingga siang untuk sekedar bertemu sebentar, dan setelah bertemu masih disentil oleh dosen pembimbing karena berbagai kesalah pahaman.

Apa mungkin dosen pembimbing memang sibuk-sibuk?

Atau mahasiswa yang kurang beretika ketika meminta pembimbingan skripsi?


Atau saya pribadi yang salah menafsirkan makna 6 SKS skripsi? Mohon maaf jika memang seperti itu. Semoga bisa menjadi perbaikan bagi kita semua kedepannya.

Sabtu, 12 November 2016

Review Buku Nasional.Is.Me


Buku yang tidak hanya menceritakan opini namun berdasarkan pengalaman langsung dari Pandji Pragiwaksono sebagai penulis yang telah berkeliling di beberapa tempat dan berdiskusi dengan beberapa tokoh penting di Indonesia sehingga melalui tulisan inilah akan dibuka beberapa aksi nyata begitu cintanya Pandji terhadap bangsa Indonesia. Pada masing-masing bab juga diberikan tantangan aksi yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan Nasional.is.me kita. Salah satu buku yang wajib di baca buat kalian yang ngaku cinta Indonesia.

Menciptakan perubahan adalah salah satu poin penting dalam buku ini. Meskipun begitu dalam penjabarannya begitu meluas diantaranya mengenai kenali Indonesiamu, temukan passion-mu, berkaryalah untuk masa depan bangsamu dan masih banyak lainnya.

Namun secara pribadi beberapa poin tulisan yang cukup membuka pikiran saya diantaranya mengenai maraknya perbedaan yang terjadi diantara kita (red : suku bangsa Indonesia), masalah utamanya adalah ego dari masing-masing kelompok yang terlalu tinggi, terlalu membanggakan atau meninggikan kelompoknya dibanding yang lain dan masih banyak lainnya. Padahal kita semua satu, dalam payung besar bernama Indonesia. Memang hampir mustahil menyatukan 17.000 lebih kepulauan yang ada di Indonesia ini. Namun bagaimanapun juga, ini lah Indonesia yang harus kita jaga. Salah satu solusinya adalah dengan ‘memahami’ satu sama lainnya. Ah, mungkin pemuda sekarang terlalu egois untuk bisa memahami perbedaan ini. . .

Buku ini juga menyorot apatisnya pemuda kita terhadap dunia politik. Dan Panji memberikan solusinya dalam buku ini. Solusinya akan saya analogikan dengan bahasa saya sendiri, bagi yang ingin mengetahui analogi dari Panji silakan baca buku Nasional.is.me :).

Dulu saya juga apatis terhadap politik, namun berawal dari ajakan seorang kawan dekat untuk bergabung menjadi fungsionaris BEM KM UNNES 2015 sedikit banyak merubah pikiran saya. Bagi saya yang termasuk awam terhadap dunia politik kampus, awalnya saya bersedia diajak bergabung dikarenakan alasan yang sederhana karena bagian saya disini hanya di bagian media sebagai salah satu tempat menyalurkan minat saya.

Beberapa kawan memang kurang setuju dengan tindakan ‘Demonstrasi’ yang sering dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa secara khusus karena dituding sebagai sarana ‘aksi pamer’ saja dan bukan merupakan ‘aksi solutif’. Mereka lebih memilih membanggakan aksi nyata mereka dengan melakukan penggalangan dana, donor darah, pengabdian masyarakat dan lain sebagainya. Itu memang salah satu hal yang bagus karena saya juga melakukan 2 dari 3 aksi tersebut. Hal yang kurang saya mengerti adalah kenapa mereka harus meremehkan mahasiswa yang berdemo? Bukankah lebih baik apabila kita berkolaborasi di bidang kita masing-masing?

Pada poin ini kata ‘memahami’ sangat penting untuk kembali digunakan mengingat bangsa ini melandaskan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat persatuannya.
Untuk memahami itu, oke mari kita pahami kenapa demo itu penting. Mungkin aksi-aksi otodidak yang terus dilakukan bisa langsung membuahkan aksi nyata namun dampaknya akan berbeda jika kita melakukan demo dan dialog langsung dengan pemimpin kebijakan. Karena pemimpin kebijakan tersebutlah yang bisa mendatangkan dampak yang begitu besar terhadap masyarakat. Diantaranya penggusuran rumah warga, pembangunan pabrik semen, pembuatan toko modern yang mematikan toko tradisional dan lain sebagainya.

Pemimpin kebijakan harus terus dipantau, dikritik dan diluruskan apabila kebijakannya semakin melenceng. Semakin kita tidak peduli terhadap politik maka kita akan semakin dibodoh-bodohi oleh oleh kebijakan pemimpin yang mendzalimi kita. Untuk itulah kita harus peduli terhadap politik. Dimulai dari membaca dan melihat berita-berita politik yang netral dari segala kepentingan.

Pada akhir review tulisan ini saya tutup dari salah satu quote yang ada di buku Nasional.is.me yang bunyinya:

Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia, Mereka yang menuntut perubahan, Mereka yang menciptakan perubahan, Silakan pilih perjuanganmu.

Bagi yang tidak mempunyai bukunya, Mas Pandji baik banget mau membagikan ebooknya secara gratis yang bisa diunduh DISINI

Kamis, 15 September 2016

Saatnya Pendidikan Indonesia Bangkit


Pada saat itu para pahlawan hidup di jaman serba susah. Indonesia (Hindia Belanda) pada masa mereka hidup, ada di era penjajahan yang begitu menyesakkan di mana semuanya dibatasi. Pendidikan dibatasi, berpendapat di batasi, organisasi-organisasi kemasyarakatan dibatasi, mobilitas dibatasi, perdagangan dibatasi, kemiskinan menjadi absolut, kebodohan menjadi hal yang wajar, infratruktur sangat terbatas, pajak mencekik begitu tinggi, layanan publik hanya untuk kalangan penjajah dan priyayi. Semua hal ini dapat dianalogikan seperti burung di dalam sangkar kecil yang jarang diberi makan dan dimandikan.

Rabu, 31 Agustus 2016

Indahnya Gunung Ungaran

Dusun Promasan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal adalah sebuah dusun tertinggal yang terletak di ketinggian 1800 mdpl, di lereng Gunung Ungaran. Dusun Promasan adalah sebuah dusun wisata yang menyuguhkan pemandangan hamparan kebun teh dan kebun kopi, Goa Jepang, dan jalur pendakian menuju puncak Gunung Ungaran.

Namun dibalik berbagai potensi tersebut, Desa Promasan bisa disebut sebagai salah satu desa tertinggal karena disini fasilitas Listrik PLN belum menjangkau dusun ini, sehingga masyarakat menggunakan genset sebagai pembangkit listrik untuk menerangi malam hari di dusun tersebut. Dalam semalam saja, genset tersebut menghabiskan 12 liter bensin dan harga bensin disana mencapai Rp 9.000. Bila ditotal, uang yang warga habiskan untuk menerangi malam mencapai Rp 108.000,-.

Jumlah tersebut menjadi pengeluaran tetap di setiap harinya. Hal ini tentu saja sangat memberatkan warga desa promasan karena penghasilan mereka sebagai buruh tani, teh dan kopi sudah banyak berkurang untuk membeli bahan bakar genset.

Dari berbagai permasalahan tersebut muncullah beberapa relawan-relawan dari berbagai pendaki, pecinta alam dan salah satunya adalah kami yang sedikit membantu program ini melalui kegiatan tahunan dari Kemenristekdikti yaitu Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM).

Tujuan program ini secara umum yaitu untuk membantu pemerintah dalam upaya mewujudkan kehidupan yang adil dan persamaan hak dalam hal permasalahan listrik bagi masyarakat dusun promasan, mengembangkan potensi aliran air yang deras untuk dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Microhidro (PLTMh) untuk pembangunan daerah tertinggal khususnya Dusun Promasan serta membuat masyarakat Dusun Promasan menjadi masyarakat yang mandiri dalam hal menghasilkan energi listrik secara berkelanjutan.

Setelah melalui proses seleksi dari Kemenristekdikti akhirnya proposal kami didanai sebanyak 12,5 juta rupiah, yang ketika cair langsung kami belikan generator senilai 8 juta rupiah. Sisanya kami perbantukan untuk infrastruktur lainnya. Proyek ini bisa dibilang proyek ratusan juta rupiah dari relawan sedangkan yang kami bantu hanya sebagian kecil dana dan tenaga saja.

Dalam pelaksanaannya program ini terdiri dari 3 tahap yaitu tahap prakegiatan yang terdiri dari rapat strategi pelaksanaan, pendekatan kepada masyarakat, bergabung dengan relawan, penggalangan dana bersama relawan, perancangan teknologi, pembelian alat dan bahan serta sosialisasi kepada masyarakat.

Tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari Pembangunan Rancangan PLTMh dan Training berkelanjutan. Tahap terakhir yaitu tahap pasca kegiatan yang terdiri dari evaluasi dan pembuatan laporan akhir. Hasil dari program rancang bangun pembangkit listrik tenaga microhidro di Dusun Promasan, Kabupaten Kendal adalah Pemasangan generator baru, pemasangan MCB listrik 1 Ampere untuk masing-masing rumah warga, penggalian pasir dan batu, pengecoran tiang pipa yang sebelumnya menggunakan balok kayu seadanya, penguatan bendungan di sisi, pelebaran penampungan di depan bendungan yang lebar, penggalangan dana untuk pembelian generator baru sebagai cadangan, turbin pengganti, dan pipa besi pengganti dan yang terakhir listrik dapat mengalir ke 19 rumah warga, 1 masjid, penerangan jalan, dan seluruh penerangan lainnya di Dusun Promasan dengan tegangan 250V. Sehingga dapat menyerupai listrik PLN yang memiliki tegangan 220V.

Alhamdulillah sekarang ini Desa Promasan bisa teraliri listrik dan kabar baiknya bisa menghemat beban listrik yang biasanya pada malam hari menggunakan bensin yang harganya cukup mahal namun sekarang bisa menggunakan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang hampir tanpa biaya. Hanya membutuhkan biaya perawatan sederhana saja yang perlu rutin dijaga oleh warga setempat.

Adanya listrik ini merupakan salah satu Inovasi Daerah yang tidak hanya membantu warga setempat, namun juga membantu masyarakat para pendaki Gunung Ungaran yang transit di Desa ini untuk sejenak merehat badan. Hal kecil ini adalah sedikir kontribusi kami untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia salah satunya dengan membantu penerangan di Desa Promasan ini. Dari mahasiswa untuk Indonesia, karena kami cinta Indonesia.


#GoodNewsFromIndonesia
#InovasiDaerahku
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku